Penting, Apa Saja yang Perlu Dipertimbangkan dengan Pasangan Sebelum Menikah dan Menjadi Orangtua?

img
Ilustrasi menikah

KOMPAS.com – Sebelum memutuskan menikah dan menjadi orangtua, ada banyak hal yang perlu didiskusikan dengan pasangan. Terutama karena setiap pasangan mengharapkan rumah tangga yang langgeng.

Untuk itu, kesiapan yang dibutuhkan bukan hanya satu dua hal, tapi bisa beragam. Apalagi, tak mudah untuk menyatukan visi dalam sebuah ikatan.

Generasi Bersih dan Sehat (genbest) juga mesti berpikir demikian ya. Nah, untuk mempersiapkan hal itu dengan matang, berikut beberapa hal yang mesti dipertimbangkan sejak awal:

1. Tes Kesehatan

Tes kesehatan pada sepasang kekasih yang memutuskan untuk menikah sangat penting demi kebaikan bersama.

Jangan lupa untuk melakukan tes kesehatan pranikah ya. Hal ini bisa membantu Anda sebagai bagian dari persiapan kehamilan sehat juga lho.

Di antara pemeriksaan yang penting adalah ada tidaknya infeksi saluran reproduksi, serta infeksi penyakit menular seksual (ISR/PMS).

Tujuannya, menghindari penularan penyakit lewat hubungan seksual, seperti sifilis, gonorrhea, Human Immunodeficiency Virus (HIV), dan penyakit hepatitis.

Pemeriksaan kesehatan pranikah juga dapat mendeteksi kemungkinan penyakit yang bisa diturunkan secara genetik kepada calon anak.

Penting untuk memeriksa kesehatan saluran reproduksi Anda dan pasangan sehingga persiapan kehamilan dapat optimal guna memperoleh keturunan yang sehat.

2. Diskusi keuangan

Layaknya bahan bakar bagi sebuah kendaraan, keuangan adalah hal vital bagi sebuah keluarga.

Ingat, saat membangun rumah tangga diperlukan biaya yang tak sedikit. Ada pengeluran rutin bulanan mulai dari membayar biaya kesehatan, listrik, air, makanan bergizi, vaksinasi, transportasi, komunikasi, hingga kebutuhan lainnya.

Diskusikan juga apabila ada pengeluaran rutin yang perlu dikeluarkan selain untuk pribadi. Misalnya, kesepakatan memberikan uang untuk orangtua, atau kerabat.

Tidak cuma itu. Anda juga perlu menyisihkan pendapatan bulanan untuk menabung demi keperluan masa depan, seperti membeli rumah yang layak, membuat jamban yang sehat, asuransi kesehatan, membeli kendaraan, juga biaya melahirkan.

Untuk itu, bicarakan dengan pasangan, bagaimana kalian akan melakukan pengaturan keuangan nanti.

Bila keduanya bekerja, apakah masing-masing akan menyumbang untuk pengeluaran bulanan, atau masing-masing bertanggung jawab untuk pengeluaran tertentu.

Contohnya, gaji istri untuk pengeluaran listrik dan air, dan kesehatan, sedangkan suami untuk pengeluaran rutin harian, seperti makan dan transportasi.

Diskusi soal keuangan sebaiknya dilakukan sejak awal secara transparan untuk meminimalisi perdebatan di kemudian hari.

3. Persiapan fisik dan mental

Pernikahan tidak selalu menemui jalan bagus nan mulus, tapi kadang menyusuri jalan terjal dan berliku. Ujian dan kendala yang memerlukan pengorbanan bisa saja ditemui di masa depan.

Untuk itu, persiapan fisik dan mental menjadi hal penting lainnya. Oleh karenanya, cari tahu kondisi serta kebutuhannya. Ingat segala pertimbangan harus didasarkan pada kebutuhan berdua.

Fisik yang sehat dan kesiapan menyal penting untuk menghadapi segala kondisi tersebut. Terutama, jika nanti punya anak.

4. Rencanakan kehamilan sehat

seperti hal yang penting didiskusikan lainnya, perencanaan kehamilan sehat juga harus dibicarakan sebelum menikah.

Bicarakan, mengenai usia yang tepat untuk hamil. Usia ideal untuk hamil adalah usia 20-an. Di masa ini, tingkat kesuburan ada dalam fase terbaik.

Selain itu, kualitas sel telur juga sangat baik sehingga bayi yang lahir akan sehat dan jauh dari risiko cacat.

Dikutip dari depkes.go.id, kehamilan remaja berdampak negatif pada kesehatan remaja dan bayinya, juga dapat berdampak sosial dan ekonomi.

Kehamilan pada usia muda atau remaja antara lain berisiko kelahiran prematur, berat badan bayi lahir rendah (BBLR), dan perdarahan persalinan yang dapat meningkatkan kematian ibu dan bayi. Kehamilan pada remaja juga terkait dengan kehamilan tidak dikehendaki dan aborsi tidak aman.

Jadi, jangan lupa juga untuk mempertimbangkan usia menikah jauh sebelum diskusi soal rencana kehamilan sehat ya.

Persalinan pada ibu di bawah usia 20 tahunmemiliki kontribusi dalam tingginya angka kematian neonatal, bayi, dan balita.

Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012 menunjukkan bahwa angka kematian neonatal, postneonatal, bayi dan balita pada ibu yang berusia kurang dari 20 tahun lebih tinggi dibandingkan pada ibu usia 20-39 tahun.

Selain mempertimbangkan usia untuk hamil, perencanaan kehamilan sehat juga berarti memenuhi kebutuhan zat besi calon ibu sebelum hamil, bahkan saat masih remaja, agar tidak mengalami anemia.

Ibaratnya, calon ibu yang memiliki tabungan zat besi lebih banyak akan lebih baik, dibandingkan dengan yang tabungan zat besinya sedikit.

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 menyebutkan 37,1 persen ibu hamil mengalami anemia dengan kadar Hb kurang dari 11 mg/dl.

Padahal, zat besi turut berpengaruh pada perkembangan janin di kandungan. Nah, akibat ibu hamil terkena anemia, aka nada potensi menghasilkan anak penderita stunting atau bertubuh pendek tidak sesuai dengan perkembangan karena kekurangan gizi.

Untuk mencukupi kebutuhan zat besi, pastikan kamu sejak remaja mengonsumsi makanan sumber zat besi, seperti telur, ikan, daging merah, daging ayam, kacang hijau, bayam, dan sayuran hijau lain.

Selain itu, setiap remaja putri pun dianjurkan mendapat 48 kapsul untuk satu tahun, dan minum satu tablet per minggu selama 1 tahun.

5.Perluas wawasan

Kata orang, semakin luas wawasan semakin baik seseorang merencanakan sesuatu. Ingin pernikahan kelak berlangsung lancar, maka perkaya wawasan Genbest sebagai calon orangtua.

Pelajari bagaimana mengatur keuangan, menyiapkan pengasuhan terbaik buat anak, mengetahui menu makanan sehat bergizi untuk keluarga, mencegah penyakit berbahaya, mengetahui jadwal imunisasi untuk anak, juga bagaimana membuat semua anggota keluarga sehat dan bahagia.

Jangan lupa untuk baca buku-buku kesehatan dan parenting, ikuti komunitas para calon orangtua agar Anda dapat memiliki bekal untuk pernikahan kelak.

 

Penulis : Tim GenBest.id

ARTIKEL TERKAIT
Kunjungi Genbest.id untuk membaca artikel-artikel lain seputar tumbuh kembang anak