Perbaikan Gizi Anak Stunting Perlu Diteruskan Setelah Usia 2 Tahun

img
Kegiatan Posyandu di wilayah Ogan Komering Ilir, salah satu langkah pencegahan stunting.

KOMPAS.com - Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut jumlah stunting di Indonesia masih sangat tinggi. Meski sudah bisa diturunkan dari 37 persen jadi 30 persen, idealnya angka stunting tak lebih dari 20 persen.

Stunting pada anak-anak bukan hanya menyebabkan postur tubuhnya kerdil, tapi juga menyebabkan berkurangnya kecerdasan dan risiko penyakit tidak menular di usia dewasa.

Walau pemerintah sudah melakukan berbagai cara, namun angka stunting tetap tinggi.

Baca juga: Sama-sama Bertubuh Pendek, Apa Beda Stunting dan Orang Kerdil?

Pertanyaan mengenai strategi jitu untuk mengatasi stunting juga mengemuka dalam debat ketiga antara Calon Wakil Presiden nomor urut 01 Ma’ruf Amin dan Calon Wakil Presiden nomor urut 02 Sandiaga Uno.

Kedua calon wakil presiden mengungkapkan strategi yang akan mereka lakukan untuk masa 5 tahun mendatang.

Ketua Pusat Kajian Gizi dan Kesehatan Universitas Indonesia, Ir.Ahmad Syafiq, PhD, menyampaikan, diangkatnya stunting dalam isu debat menunjukkan masalah gizi sekarang mendapat perhatian luar biasa.

Meski begitu, menurut Syafiq, pemahaman kedua cawapres masih kurang mendalam. Salah satunya mengenai penanganan stunting setelah anak berusia di atas dua tahun.

“Cawapres nomor urut 01 menilai pemberian susu setelah usia dua tahun tidak memberi kontribusi pada pencegahan stunting. Padahal, intervensi gizi setelah dua tahun masih berdampak walau tidak seoptimal bila dilakukan sejak 1000 hari pertama kehidupan,” ujarnya dalam diskusi di Jakarta.

Jendela intervensi gizi, lanjut Syafiq, tidak tertutup pada 1000 hari pertama kehidupan.

Ia merujuk pada penelitian dalam jurnal The Lancet tahun 2017 yang menunjukkan bahwa intervensi setelah 2 tahun masih memberikan dampak, termasuk pada kemampuan kognisi.

“Jadi, tidak benar bila intervensinya hanya terbatas pada usia 2 tahun. Tidak ada istilah terlambat untuk mengatasi stunting,” kata dosen dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia ini.

Baca juga: Bahaya Stunting Ketika Berat Badan Bayi Terus Turun

Kecerdasan anak

Pertumbuhan sel-sel otak anak paling pesat terjadi sampai ia berusia 3 tahun. Sekitar 80 persen perkembangan otak terjadi di usia emas ini.

Karena itu, menurut Syafiq sayang sekali jika anak yang stunting tidak terus mendapat perbaikan gizi setelah usia dua tahun.

Penelitian yang membandingkan antara anak stunting yang terus diintervensi gizinya menunjukkan ada penambahan kemampuan kognisi yang cukup signifikan.

“Pertumbuhannya masih bisa dikejar walau tidak optimal. Bahwa tidak mungkin optimal sudah jelas, tapi masih lumayan dibandingkan dengan yang tidak mendapatkan perbaikan,” ujar Syafiq.

Ditambahkan oleh Sekretaris Pusat Kajian Gizi dan Kesehatan Universitas Indonesia, Dr.Sandra Fikawati, MPH, sangat disayangkan jika perbaikan gizi dihentikan.

“Dari segi produktivitas dan kompetensi, anak-anak Indonesia akan kalah kalau stunting. Bukan cuma dari segi kecerdasan, tapi tinggi badan pun kalah," kata Fika.

Baca juga: MPASI Pure Sayuran Tak Cukupi Kebutuhan Nutrisi Bayi

Penulis : Tim GenBest.id

ARTIKEL TERKAIT
img

Siap Beri MPASI untuk Anak, Simak Tipsnya

Kompas.com
img

Protein Hewani Harus Ada dalam Makanan Pendamping ASI

Kompas.com
Kunjungi Genbest.id untuk membaca artikel-artikel lain seputar tumbuh kembang anak